Pengusaha Putar Otak karena Permintaan Natal, Tahun Baru Mengalami Kelesuan

GAPMMI atau Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia, mengatakan bahwa permintan makanan dan minuman olahan di masa Natal serta Tahun Baru pasalnya diprediksi tidak akan sederas tahun-tahun yang sebelumnya. Apabila pertumbuhan permintaan mencapai angka 15% sampai dengan 20% dibandingkan hari biasanya, maka para pelaku usaha cuma berani memasang ekspektasi sebanyak 5% saja untuk tahun ini.

Mengikuti Pola Lebaran Kemarin

Andhi Lukman selaku ketua umum GAPMMI mengatakan bahwa tren ini mengkuti hari raya Idul Fitri pada tahun ini. pada saat itu pertumbuhan makanan dan juga minuman sangat lesu. Menurutnya ini disebabkan oleh adanya pergeseran pola konsumsi yang mana sudah tak seperti dulu lagi. Ia menceritakan, beberapa tahun yang lalu, masyarakat sering sekali membeli makanan seperti misalnya kue dan juga sirup untuk dibawanya ke kampung halaman. Maka dari itu lah tidak mengherankan apabila penjualan bandar togel online grosir amat sangat kencang. Akan tetapi seiring dengan maraknya jejaring distribusi seperti misalnya minimarket, jadi masyarakat menjadi enggan untuk membeli makanan dan juga minuman dalam jumlah banyak lagi.

“Mungkin saja kalau dahulu, kalau mau pulang kampung masyarakat membawa barang mewah dan juga sirup. Sekarang tidak. Permintaan tetap meningkat akan tetapi tak setinggi pada tahun kemarin. Kalau Natal biasanya sih dari 15% sampai dengan 20%. Sekarang paling hanya 5% saja dibanding normal mengikuti masa lebaran yang kemarin,” imbuhnya pada hari Selasa (12/12).

Para Pengusaha Mesti Putar Otak

Apabila kondisi ini terus saja dibiarkan, maka pertumbuhan industry makanan dan juga minuman akan semakin layu. Ditambah lagi, masa-masa hari raya adalah masa di mana bisa menopang pertumbuhan industry. Oleh karen itu, pelaku-pelaku usaha bisnis perlu sekali untuk bisa memutar otak mereka supaya pertumbuhan industry tetap stabil dan juga tidak terpengaruh dengan musim hari raya saja.

Salah satu caranya adalah seperti yang disampaikan oleh Adhi. Menurutnya dengan melalukan diversifikasi produk. Dia sendiri sudah mengimbau pada para anggota asosiasi untuk bisa membuat produk-produk yang sesuai dengan musim dn juga menjadikan Jepang sebagai tolak ukur. Selain itu juga para pelaku usaha juga mencoba beralih pada produk ramah lingkungan dan kesehatan seperti misalnya minuman kemasan dengan kadar gula yang rendah atau less sugar.

“Oleh karena itu, strategi bisnis ini mesti diubah. Pertumbuhan industry makanan dan juga minuman tak boleh bersifat seasonal atau musiman. Bagaimana caranya mesti stabil pertumbuhannya dan tak mengandalkan festive season,” lanjutnya lebih rinci.

Selain upaya diversifikasi produk, para pelaku usaha juga bakal mencari strategi suapya industry makanan dan juga minuman bisa terus dikonsumsi masyarakat golongan menengan ke bawah setiap waktu. Pasalnya, menurut dirinya, rata-rata penduduk Indonesia menengah ke bawah menggelontorkan uangnya pada tanggal muda lalu daya belinya surut mendekati pertengahan bulan.

“dari data industry ritel yang ada, memang trendnya seperti itu. makanya ada beberapa buah strategi yang menjadi pembahasan agar pertumbuhan industry makanan dan minuman tahun depan bisa lebih dan lebih baik lagi,” tutur Adhi lagi.

Menurut data BPS (Badan Pusat Statistik), pertumbuhan industry makanan dan minuman pada kuartal III ini mencapai 9.46% secara tahunan atau year on year. Bisa dikatakan ini turun apabila dibandingak periode yang sama di tahun lalu yang mencapai 9,8%. Meskipun demikian, angka ini sudah jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan industry non migas yang besarnya hanya 5,49% pada periode yang sama.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*