No Picture

Pengusaha Putar Otak karena Permintaan Natal, Tahun Baru Mengalami Kelesuan

December 21, 2017 rizal 0

GAPMMI atau Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia, mengatakan bahwa permintan makanan dan minuman olahan di masa Natal serta Tahun Baru pasalnya diprediksi tidak akan sederas tahun-tahun yang sebelumnya. Apabila pertumbuhan permintaan mencapai angka 15% sampai dengan 20% dibandingkan hari biasanya, maka para pelaku usaha cuma berani memasang ekspektasi sebanyak 5% saja untuk tahun ini.

Mengikuti Pola Lebaran Kemarin

Andhi Lukman selaku ketua umum GAPMMI mengatakan bahwa tren ini mengkuti hari raya Idul Fitri pada tahun ini. pada saat itu pertumbuhan makanan dan juga minuman sangat lesu. Menurutnya ini disebabkan oleh adanya pergeseran pola konsumsi yang mana sudah tak seperti dulu lagi. Ia menceritakan, beberapa tahun yang lalu, masyarakat sering sekali membeli makanan seperti misalnya kue dan juga sirup untuk dibawanya ke kampung halaman. Maka dari itu lah tidak mengherankan apabila penjualan bandar togel online grosir amat sangat kencang. Akan tetapi seiring dengan maraknya jejaring distribusi seperti misalnya minimarket, jadi masyarakat menjadi enggan untuk membeli makanan dan juga minuman dalam jumlah banyak lagi.

“Mungkin saja kalau dahulu, kalau mau pulang kampung masyarakat membawa barang mewah dan juga sirup. Sekarang tidak. Permintaan tetap meningkat akan tetapi tak setinggi pada tahun kemarin. Kalau Natal biasanya sih dari 15% sampai dengan 20%. Sekarang paling hanya 5% saja dibanding normal mengikuti masa lebaran yang kemarin,” imbuhnya pada hari Selasa (12/12).

Para Pengusaha Mesti Putar Otak

Apabila kondisi ini terus saja dibiarkan, maka pertumbuhan industry makanan dan juga minuman akan semakin layu. Ditambah lagi, masa-masa hari raya adalah masa di mana bisa menopang pertumbuhan industry. Oleh karen itu, pelaku-pelaku usaha bisnis perlu sekali untuk bisa memutar otak mereka supaya pertumbuhan industry tetap stabil dan juga tidak terpengaruh dengan musim hari raya saja.

Salah satu caranya adalah seperti yang disampaikan oleh Adhi. Menurutnya dengan melalukan diversifikasi produk. Dia sendiri sudah mengimbau pada para anggota asosiasi untuk bisa membuat produk-produk yang sesuai dengan musim dn juga menjadikan Jepang sebagai tolak ukur. Selain itu juga para pelaku usaha juga mencoba beralih pada produk ramah lingkungan dan kesehatan seperti misalnya minuman kemasan dengan kadar gula yang rendah atau less sugar.

“Oleh karena itu, strategi bisnis ini mesti diubah. Pertumbuhan industry makanan dan juga minuman tak boleh bersifat seasonal atau musiman. Bagaimana caranya mesti stabil pertumbuhannya dan tak mengandalkan festive season,” lanjutnya lebih rinci.

Selain upaya diversifikasi produk, para pelaku usaha juga bakal mencari strategi suapya industry makanan dan juga minuman bisa terus dikonsumsi masyarakat golongan menengan ke bawah setiap waktu. Pasalnya, menurut dirinya, rata-rata penduduk Indonesia menengah ke bawah menggelontorkan uangnya pada tanggal muda lalu daya belinya surut mendekati pertengahan bulan.

“dari data industry ritel yang ada, memang trendnya seperti itu. makanya ada beberapa buah strategi yang menjadi pembahasan agar pertumbuhan industry makanan dan minuman tahun depan bisa lebih dan lebih baik lagi,” tutur Adhi lagi.

Menurut data BPS (Badan Pusat Statistik), pertumbuhan industry makanan dan minuman pada kuartal III ini mencapai 9.46% secara tahunan atau year on year. Bisa dikatakan ini turun apabila dibandingak periode yang sama di tahun lalu yang mencapai 9,8%. Meskipun demikian, angka ini sudah jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan industry non migas yang besarnya hanya 5,49% pada periode yang sama.

No Picture

Lakukan Penyederhanaan Golongan Listrik, PLN Batal Hapus 900 VA

December 11, 2017 rizal 0

Perusahaan Listrik Negara (PLN) dalam beberapa waktu terakhir tengah disorot dengan rencana mereka melakukan penyederhanaan golongan listrik untuk pelanggan rumah tangga nonsubsidi. Melalui aturan yang tinggal menunggu persetujuan Menteri ESDM itu, nantinya golongan listrik pelanggan nonsubsidi 900 VA, 1.300 VA, 2.200 VA, 3.500 VA dan 4.400 VA akan dihapus. Sehingga cuma bakal menyisakan golongan listrik 5.500 VA dan 6.600 VA.

 

Hanya saja aturan ini tidak berlaku bagi pelanggan subsidi sehingga mau tak mau pelanggan nonsubsidi harus menambah daya listrik mereka. Dengan perubahan ini, pendapat PLN berpeluang besar meningkat tetapi mereka harus menanggung biaya penyesuaian kenaikan daya listrik pelanggan untuk penggantian pemasangan Miniatrure Circuit Breakter (MCB). Dilansir CNN Indonesia, berdasar jumlah pelanggan nonsubsidi PLN, hingga tahun ini total golongan listrik 5.500 VA ke atas hanya 969 ribu sementara golongan 900-4.400 VA mencapai 31,1 juta pelanggan.

 

Namun pada Kamis (17/11), PLN akhirnya membatalkan penghapusan golongan listrik nonsubsidi 900 VA yang mencapai 18,9 juta pelanggan. Dengan pembatalan ini, maka PLN bisa menghemat hingga 60 persen biaya penambahan daya listrik. Sehingga dengan demikian untuk golongan nonsubsidi hanya akan dihapus pada 1.300 VA, 2.200 VA, 3.500 VA dan 4.400 VA. Sekedar informasi, tarif listrik 900 VA nonsubsidi diterapkan Rp 1.352/Kwh. Sementara untuk golongan 1.300 VA ke atas adalah Rp 1.467/Kwh.

 

Atas keputusan ini, Direktur Utama PLN yakni Sofyan Basir pun angkat bicara, “900 VA tidak jadi dimasukkan kan golongan prasejahtera, ada subsidinya dd48ball di sana. Nanti kalau dilepas, tidak adil dengan golongan 450 VA. Saya pikir 900 VA tidak hari ini. Yang pasti penambahan daya gratis dan Tarif Dasar Listrik (TDL)tidak naik, untuk abonemen mengikuti batas bawah.”

 

Dana Penyederhanaan Golongan Listrik Capai Rp 1,5 T

 

Kementrian ESDM sempat menyebutkan kalau untuk kebutuhan mengganti MCB, PLN harus menggelontorkan uang Rp 1-1,5 triliun sesuai dengan biaya penggantian MCB yang mencapai Rp 30-50 ribu per pelanggan dan hitung-hitungan total 31,1 juta pelanggan nonsubsidi yang harus berpindah golongan listrik.

 

Namun dengan adanya pembatalan penghapusan golongan 900 VA, maka PLN menghemat antara Rp 567-945 miliar. Hanya saja kebijakan ini sempat menimbulkan problem yang dirasakan pelanggan nonsubdisi. Karena ada rumor yang menyebut kalau meski PLN menanggung biaya penggantian MCB, pelanggan masih dibebani tarif pengalihan daya. Tak main-main, dari daya 1.300 VA ke 5.500 VA membutuhkan Rp 4,06 juta dan terkecil dari daya 4.400 VA ke 5.500 VA yakni Rp 1,06 juta.

 

Penyederhanaan Golongan Listrik Dimulai di Jawa

 

Kendati masih menimbulkan polemik di masyarakat dan Kementrian ESDM sendiri, PLN sudah memiliki rencana matang terhadap penyederhanaan golongan listrik ini. Nantinya proses akan dilakukan di seluruh Indonesia tetapi dimulai terlebih dahulu di pulau Jawa yang memang dikenal paling padat.

 

Sofyan menjelaskan kalau pelaksanaan penyederhanaan golongan listrik ini akan dilakukan pada tahun 2018. Dia pun menegaskan kalau pelanggan tak akan dikenai biaya tambahan daya. Hanya saja karena masih sebatas rencana dan belum mendapat persetujuan langsung pemerintah, PLN belum membahas secara detail

 

Atas rencana kebijakan baru PLN ini, pihak YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia) cukup khawatir karena bisa saja membebani konsumen nonsubsidi. Karena meskipun TDL dijamin tidak naik, beban minimal untuk 1.300 VA yang Rp 129 ribu akan berubah jadi Rp 320.800 sesuai dengan golongan 5.500 VA.