No Picture

Status Darurat Dicabut, Gunung Agung Mendadak Erupsi

December 28, 2017 rizal 0

Gejolak gunung Agung di Karangasem, Bali memang begitu fluktuatif dan membuat banyak pihak harap-harap cemas. Sekedar informasi, aktivitas gunung Agung mulai meningkat pada bulan September 2017. Hingga akhirnya pada 22 September, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menaikkan statusnya dari Siaga menjadi Awas.

 

Setelah ribuan gempa vulkanik, aktivitas gunung Agung menurun drastis hingga BNPB menurunkan kembali statusnya menjadi Siaga pada 29 Oktober. Letusan dahsyat gunung Agung dimulai lewat erupsi magmatik pada 25 November yang menyebabkan penerbangan terganggu. Hampir satu bulan berselang, kegiatan vulkanik gunung Agung menurun hingga akhirnya Presiden Joko Widodo mencabut status tanggap darurat bencana pada Jumat (22/12) kemarin.

 

Pencabutan status ini diharap bisa menaikkan kembali sektor pariwisata Bali yang terpuruk selama hampir tiga bulan terakhir. Meski demikian, pemerintah tetap memastikan pemenuhan kebutuhan pangan warga sekitar. Hanya saja Menko Luhut Pandjaitan mengakui jika beras bantuan dari Pemda juga akan diberhentikan, tetapi akan dipikirkan bantuan pangan lewat Kemensos.

 

Demi memenuhi kebutuhan logistik para pengungsi, Pemprov Bali akan menggunakan beras cadangan daerah sebanyak 200 ton dan 100 ton tambahan milik Pemkab Karangasem, seperti dilansir CNN Indonesia. Untuk gunung Agung sendiri, kini status Awas hanya berlaku pada radius 8-10 kilometer dari puncak. Di luar area itu, seluruh aktivitas Bali masih normal dan aman untuk wisatawan.

 

Gunung Agung Semburkan Asap 2.500 Meter

Demi menggenjot wisata Bali, Presiden Jokowi menyempatkan diri hadir ke pulau Dewata dan menyatakan kalau Bali aman. Hanya saja sehari setelah status tanggap darurat dicabut, gunung api setinggi 3.142 meter itu mendadak erupsi. Hari Sabtu (23/12) pukul 11.57 WITA, BNPB menyatakan kalau gunung Agung menghembuskan asap kelabu dari kawah Bandar togel online  dengan intensitas tebal setinggi 2.500 meter.

 

Meskipun mendadak erupsi, Sutopo Purwo Nugroho selaku Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB menyebutkan kalau kondisi Bali masih aman, termasuk tak ada penerbangan di bandara internasional Ngurah Rai yang terganggu. Atas gerakan gunung Agung, Kasbani selaku Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengaku belum bisa memprediksi skala letusan gunung Agung.

 

Pada akhir November kemarin, Kasbani menjelaskan kalau letusan gunung Agung masihlah bertipe freatik yakni letusan yang dipicu oleh air yang bertemu dengan magma. Hal ini akhirnya membuat PVMBG masih belum bisa memprediksi kapan letusan besar gunung Agung bakal terjadi.

 

Erupsi Gunung Agung Timbulkan Rugi Rp 11 Triliun

Sebagai pulau yang memfokuskan pendapatan mereka di sektor pariwisata, gejolak gunung Agung jelas menampar Bali. Tak main-main, Bali dilaporkan mengalami kerugian ekonomi mencapai 11 triliun rupiah. Berdasarkan pernyataan Menteri Pariwisata Arief Yahya, kerugian dari sektor pariwisata Bali mencapai Rp 9 triliun sejak peningkatan status awas pertama pada September-Desember 2017. Sementara dua triliun rupiah berasal dari kredit macet yang dialami masyarakat Karangasem.

 

Diperkirakan gunung Agung akan tetap aktif selama Desember 2017 hingga 2018 nanti, seperti gunung Sinabung di Sumatera Utara. Saat ini lava telah naik mengisi mangkok kawah dengan material vulkanik mencapai 20 juta meter kubik. Kendati begitu, Sutopo menegaskan kalau letusan gunung Agung kali ini tak akan sebesar tahun 1963.

 

Lantaran erupsi gunung Agung pula, Bali tak bisa memenuhi target enam juta wisatawan mancanegara. Hal ini membuat Menpar Arief menyiapkan 100 miliar rupiah untuk pemulihan